SOLO - Awal mula terjun ke dunia politik, tidak sedikit yang meragukan
kemampuan Joko Widodo. Apalagi kalau melihatnya hanya dari sisi fisik.
Pria yang akrab disapa Jokowi itu pun sendiri mengakui dirinya memang
tidak punya potongan pejabat.
Tapi toh, rakyatlah yang akhirnya
menilai sekaligus menjadi penentu terakhir. Terbukti, Jokowi dan
pasangannya, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) berhasil memenangi pemilihan
gubernur DKI Jakarta, walau masih dalam versi hitung cepat.

Kesuksesan
yang diraih Jokowi di Jakarta itu tidak bisa dilepaskan dari
keberhasilannya selama memimpin
Kota Surakarta. Karena dari sanalah
namanya mulai dikenal di kancah politik.
Sebelum itu, Jokowi
hanyalah seorang pengusaha mebel di Kota Surakarta. Usaha yang
dirintisnya sejak sekitar tahun 1990-an, setelah dia memutuskan berhenti
bekerja dari sebuah BUMN di Aceh.
Sebagai putra dari keluarga
sederhana, Jokowi harus merintis bisnis barunya itu dengan susah payah.
Dimasa-masa awal dia bahkan terpaksa menjaminkan sertifikat tanah milik
orang tuanya ke bank untuk mendapatkan modal. "Tempatnya dulu masih
sewa, saya cari yang murah-murah," kata Jokowi.
Sembilan tahun
lamanya Jokowi merintis dan membesarkan usaha mebelnya itu. Guna
menghemat modal kerja, meski telah memiliki tiga pekerja tak jarang dia
terjun sendiri. Mulai dari menghaluskan kayu, membuat konstruksi,
finishing, bahkan sampai memasarkan. Walau sebenarnya saat itu dia telah
memiliki tiga orang pekerja.
"Dia memang pekerja keras dan
selalu optimis. Karena itu tidak heran kalau sekarang usahanya menjadi
besar seperti sekarang ini," kata paman Jokowi, Miyono, hari ini.
Selain
membawa kesuksesan dari sisi materi, usaha mebel itu juga memberi
Jokowi kesempatan berharga untuk mengasah bakat kepemimpinannya.
Tepatnya setelah dia dipercaya sebagai Ketua Asosiasi Industri
Permebelan dan Kerajinan (Asmindo) Soloraya.
Menurut Ketua
Asmindo Soloraya, David R Wijaya, selama kepemimpinannya itu Jokowi
mampu memberikan angin segar bagi organisasi. Khususnya memperbaiki
kinerja organisasi dan iklim usaha. Keberhasilan itu menjadi alasan
pengurus Asmindo mendorong Jokowi mencalonkan diri sebagai Wali Kota
Surakarta pada 2005 silam.
Banyak yang meragukan sosok Jokowi
ketika itu. Tapi akhirnya keraguan itu mampu dijawab oleh Jokowi melalui
berbagai gebrakan dan bukti nyata. Satu yang paling fenomenal adalah
keberhasilannya merelokasi 989 Pedagang Kaki Lima Monumen Banjarsari ke
Pasar Klithikan Notoharjo. Luar biasa karena relokasi itu bukan hanya
tanpa kekerasan, tapi dikemas dalam sebuah kirab budaya.
Model
pendekatan hati ke hati dan prinsip nguwongke uwong (memanusiakan
manusia) yang dikedepankannya rupanya mendapatkan tempat di hati warga
Kota Surakarta. Terbukti, pada pencalonannya yang kedua kali sebagai
Wali Kota Surakarta 2010 lalu, Jokowi dan pasangannya Hadi meraih 90.09%
suara.
Sebagai pemimpin, Jokowi merupakan sosok yang selalu
ingin dekat dengan rakyatnya. Bukan rahasia lagi jika di sela-sela
kesibukannya menjalankan tugas-tugas birokrasi sebagai Wali Kota
Surakarta, Jokowi selalu menyempatkan diri berkunjung ke
kampung-kampung.
"Ya cuma sekedar bertemu warga, ngobrol-ngobrol
dengan mereka. Biasanya kalau kerjaan di kantor sudah selesai, Bapak
pasti ngajak keliling," kata sopir Wali Kota Surakarta Suliadi.
Bahkan,
saking selalu ingin dekat dengan rakyatnya Jokowi membuat kegiatan
mider praja. Yakni, bersepeda keliling mengunjungi perkampungan warga
setiap Jumat pagi. Kegiatan mider praja itu biasanya ia lakukan bersama
para pejabat dan kepala dinas dilingkungan Pemerintahan Kota Surakarta.
Dalam
satu kesempatan Jokowi pernah mengatakan kunjungan langsung seperti itu
sangat penting dilakukan seorang pemimpin. Sebab hanya dengan begitu
dia bisa mengetahui persoalan yang tengah dihadapi rakyatnya. "Ibarat
air, kalau tidak terjun langsung yang terlihat dari atas buihnya saja,"
katanya.
Suliadi telah menjadi supir untuk mobil dinas sejak
puluhan tahun lalu. Sebelum Jokowi, dia telah melayani empat wali kota
terdahulu. Selama itu, baru kali ini dia menemukan pribadi yang
dirasakannya berbeda. Jokowi tidak menempatkan diri sebagai seorang
pejabat yang selalu ingin dihormati bawahannya.
"Kalau pas berdua
saja di mobil, ya suka bercanda-bercanda. Bahkan waktu banjir Solo 2007
lalu dan mobil dinas macet, Bapak turun untuk mendorong padahal waktu
itu pakai jas. Pernah juga waktu saya bangun kesiangan, Bapak yang
menjemput saya di rumah," kisahnya.
Kerendahan hati seorang
Jokowi sebagai atasan, juga pernah dirasakan mantan Kepala Dinas
Pariwisata Surakarta, Purnomo Subagyo. Ketika itu Purnomo mengaku pernah
melakukan kesalahan dalam sebuah kegiatan, tapi Jokowi sama sekali
tidak marah.
"Pak Wali cuma bilang, Pak Pur besok jangan seperti ini lagi ya," kenangnya.
Itulah
yang membuat Purnomo sampai saat ini masih sering mengunjungi Jokowi,
termasuk menyambutnya ketika baru saja tiba dari Jakarta, Jumat (21/9)
kemarin. "Kalau dulu menyambut atasan, sekarang nyambut adhine (adik),"
katanya.